06 7 / 2014

theovertunes-blog:

Hello Juli!

Ya, kayaknya kita semua tau ya betapa “gila” nya bulan Juni kemaren. Dimulai dari ulang tahun Mada bareng mimom, ulang tahun pernikahan Mama-Papa, ulang tahun uncle Binsar, ikut keluarga Yasmin ke RED tour di MEIS, nonton konser Taylor Swift, taping di talkshow Sule dan Ndu…

Reuben, jujur aja aku gatau harus komentar apa..

Tapi, kamu punya lebih banyak orang dari yang kamu tau untuk sekedar sharing. Mungkin ga semua bisa kasih masukan, tapi sekedar jadi pendengar yang baik pasti bisa :)

Smile!

06 7 / 2014

lovequotesrus:

Everything you love is here

lovequotesrus:

Everything you love is here

06 7 / 2014

"If love is blind, I think I need to learn braille."

@TiaSetiawati (via karenapuisiituindah)

06 7 / 2014

"Yang mengecilkan; manusia. Yang membesarkan; Tuhan. Pola pikirmu jangan dibalik, supaya kamu tetap berpikiran baik."

@TiaSetiawati (via karenapuisiituindah)

13 5 / 2014

"Wanna ask me? Here ~~"

ask.fm/ideteel

(Source: )

28 4 / 2014

tunist:

Hallo tunist..!!! How’s your day so far?? Jagger dong yaaa…

Aku mau share tentang tanya jawab waktu #AskReuben, daripada ngestalk , scroll mulu, kasian tuh jarinya, ya kalau loading nya cepet, kalau engga, bete juga kan.

Nah, ini dia sedikit tentang #AskReuben

1. Q: waktu kecil punya…

30 12 / 2013

2013 tahun dimana aku bisa kenal TheOvertunes. Full. Mada, Reuben, Mikha. Bahkan keluarganya.

Andrew, Om Lans, Tante Vo, Kak Luika, Jeremy, Jemima, sampe Mimom (kalo kata kak Luika kita boleh panggil Oma :D)

Nah kalo diminta sharing tentang sepanjang tahun 2013 sama TheOvertunes dan Tunist, bakal bisa dibikin novel loh saking banyak yang mau diceritain. Serius. Haha :D

Oke, mulai meramaikan hari ini dengan #TheOvertunes2013 bertebaran di timeline dari pagi. ASLI. Mata aku basah. Terharu. Setiap tunist punya cerita mereka masing-masing.

Disini, aku mulai kisahku!

Berawal dari masih belum ngantuk, iseng setel tv. Cetak-cetek channel, sampe nonton audisi XFactor Indonesia. Disana! Mikha Angelo. Biasa aja awalnya. Tapi pas tau dia lebih muda dari aku, tapi udah kuliah, gatau kenapa, itu jadi daya magnet tersendiri buat aku dibanding suara atau tampangnya. Haha!

Terus, aku ikutin setiap minggunya. Bagus juga suaranya x)

Terus, ada temen yang mulai mention-mention mikha. Aku stalk. Aku follow.

Terus, aku mulai follow bandnya, TheOvertunes, sama personilnya juga (Mada, Reuben, sama Jeremy). Tapi sayang, suatu waktu, Jeremy punya keputusannya sendiri buat keluar dari TheOvertunes. Jadi, jeronimoes (fans Jeremy) dan tunist pun menghargai keputusannya.

Sekalipun Jeremy keluar, dia tetep jadi idola para Jeronimoes dan semua tunist kok :D

Aku juga follow fanbase-fanbase mereka buat tau lebih tentang mereka.

Nah terus ada cerita di balik setiap gigs. Sekalipun ada yang ga dateng, kita tetep bisa dapat semua info, dan foto-foto dari live report para fanbase atau temen-temen yang lain.

Terlalu banyak yang harus dan bisa banget aku ceritain. Tapi mungkin seiring berjalannya waktu, akan ada saatnya lagi nanti, aku cerita lebih banyak.

Cerita tentang kita, TheOvertunes dan Tunist :D

Yang pasti, 2013 tahun dimana awal TheOvertunes dan tunist bersatu.

Sejujurnya, aku bingung mau cerita apa. Kalian terlalu istimewa haha *chibi keleus ah*

Love YOU!

27 12 / 2013

#TheOvertunesEP

Setelah #WeWantTheOvertunesAlbum, hashtag yang ini juga berhasil masuk trending topic! Haha jagger lah :D

EP. Apaan sih EP? Itu yang bikin tunist waktu ada hashtag #TheOvertunesEP. EP itu singkatan dari Extended Play. TheOvertunes dikasih kesempatan sama Sony Music Indonesia buat bikin Extended Play sendiri :D

Extended Play itu apa? Nah extended play itu semacam mini album.

Harganya? Rp 175.000,00 + ongkir. Nah, awalnya kecewa banget sama harganya :(

Kenapa? Ya abisnya, tunist kan sebagian besar itu pelajar (termasuk aku). Harga segitu agak termasuk kurang terjangkau di kantong para pelajar. Kalo harus ijin ke orangtua, yaaaa kali aja gampang buat dikasih.

Itu masalahku di awal. Kalo kata Reuben, ya mau gimana? Gapapa ga beli, yang penting semua tunist harus denger isi dari extended play-nya itu. Soalnya kalo kata dia, extended play ini buat tunist. Mereka (TheOvertunes) berusaha semaksimal mungkin biar ga ngecewain tunist. Mereka sedih kalo liat tunist kecewa L

Setelah kegalauan maksimal, dan curhatan kesana-sini, dan minta ijin sampe mulut berbusa (?) akhirnya aku order EP TheOvertunes! Wohoooo!

Apa isi dari extended play yang harganya selangit bagi kantong anak pelajar itu?

Isinya 3 lagu, terdiri dari lagu Soulmate versi Mikha Angelo, Soulmate versi acoustic, sama Sayap Pelindungmu! Ada video clip sayap pelindungmu juga!

Isinya ga cuma itu! Ada juga foto, nah foto ini, beda-beda setiap orangnya. Ada yang dapat foto Mada, Reuben, Mikha, atau bahkan foto TheOvertunes! Pose di setiap foto juga beda-beda. Haha. Nah aku disini, dapat foto TheOvertunes :D

Ada stiker dengan logo TheOvertunes juga!

Selain itu ada juga bukunya, ada tulisan mengenai mereka bertiga. Di buku itu juga ada tanda tangan mereka bertiga. Ada banyak foto mereka juga.

Yang paling penting ya ada CD nya haha! Terus yang bikin geregetan itu, ada nomor sertifikat yang ga dimiliki orang lain. Aku dapat nomor 038 :D

Seneng. Haha.

Aku suka video clip sayap pelindungmu, apalagi pas ada bagian nge-rewind gitu. Dari anak-anak, sampe kakek-nenek bareng-bareng terus.

Berharap tunist sama TheOvertunes bakalan kaya gitu!

Langgeng xD

Amin amin :3

Nah ini aku coba share foto #TheOvertunesEp ya :)

Ini halaman pertama :)

Ini halaman paling belakang. 038 hihi :p

Ini cover depan, ganteng semua :(

Cover belakang coy!

CD TheOvertunes :)

Stiker logo TheOvertunes!! Wohooo!!

MIKHA ANGELO!

REUBEN NATHANIEL!

MADA EMMANUELLE!

LIRIK LAGU SAYAP PELINDUNGMU SAMA SOULMATE! :D

Ini aku dapat foto yang ini. Ganteng. Bawa pulang yuk, haha!

Oke, that’s all guys!

Maju terus bareng tunist hihi #MuchLove mwah!

29 11 / 2013

AKU BENCI SAMA KAMU! AKU BENCI KAK IMO ! BENCI BANGET !

Kata-kata itu yang selalu terngiang di kepala Gieska selama 3 tahun ini.

Gieska selalu sayang sama kakak satu-satunya itu. Tapi entah mengapa yang dikatakan takdir tidaklah demikian. Takdir tidak memperbolehkan mereka bersama. Imo bukanlah kakak kandungnya. Ia anak angkat orangtuanya. Imo tau segala sesuatunya dari dia duduk di kelas 3 SMA. Imo tau tanpa sengaja. Saat itu, ia mendengar percakapan antara mama dan kepala panti asuhan tempat ia diambil.

Gieska yang awalnya tidak mengerti hal itu hanya bisa ikut menangis karena melihat kakak kesayangannya itu dan mamanya juga menangis dengan sangat hebat.

“Imo sayang.. Denger mama dulu..” mama ikut menangis dan segera menutup teleponnya.

“MAMA BOHONG! MAMA BUKAN MAMAKU!” kata kak Imo histeris.

DEG! Hanya itu yang ada di hati Gieska saat itu. Hatinya sakit. Dadanya sesak. Dia mulai kambuh.

“Hhhhh.. Hhhhh..” Gieska memegang dadanya. Dia merasa sesak luar biasa.

“GIESKA! GIESKA!” Gieska masih bisa mendengar dengan samar kakak kesayangannya itu memanggilnya.

“Kakak, sakit di sini..” Gieska menunjuk dadanya yang sesak.

“Iya iya, ini kakak tiupin ya, biar ngga sakit ya de..” Kak Imo sangat khawatir. Ia dan mama langsung membawanya ke tempat tidur dan memasangkannya oksigen.

***

“Imo, Gieska..” kata mama pelan.

“Mama mending istirahat aja. Kita semua cape hari ini.” kata Imo dingin.

Tapi mama tidak ambil pikir. Mama tau persis apa yang ada di hati anaknya itu. Ia justru mengikuti apa yang dikatakan oleh anak angkatnya itu.

“Kak hhhh” Gieska bicara semampunya

“Ssssttt. Gieska bobo aja. Kakak temenin ya disini?”

“Kakak kenapa? Hhhh.. galak banget sama mama” kata Gieska polos.

“Ngga apa-apa kok de. Kakak cuma lagi sakit aja. Disini.” Imo menunjukkan dadanya pada Gieska.

“Kaya aku?”

“Bukan. Hehe. Hati kakak yang sakit.” Imo berusaha tersenyum pada adiknya yang berbeda 5 tahun itu.

“Fuuuuhhh.. Fuuhhhhh” Gieska meniupi hati kakaknya. “Masih sakit kak?”

“Sedikit.”

“Kan udah aku tiupin. Kok masih sakit ya?” Gieska jadi bingung sendiri.

“Ngga semua sakit bisa sembuh kalo ditiupin. Ada beberapa yang susah sembuh.”

“Oh..”

“Yaudah, kamu tidur aja. Kakak temenin disini.”

Tidak lama setelah itu Gieska terlelap dalam tidurnya. Ia percaya penuh pada kakaknya yang selalu menjaganya. Imo kini telah dewasa. Ia tidak bisa  menyangkal kenyataan. Ia tidak mau melihat orang-orang di sekitarnya sedih, apalagi melihat Gieska kambuh seperti ini. Tidak!

***

Itu kejadian yang terakhir diingatnya bersama kak Imo. Kini kak Imo pergi bersama orangtua aslinya. Keluarga Gieska tau akan kepergian Imo. Imo anak yang baik dan tidak dengan mudah melupakan hal baik yang dilakukan keluarga Gieska terhadapnya. Imo diantar oleh Gieska sekeluarga.

Hanya Gieska yang tidak mau mengantar Imo pada awalnya. Ia marah. Ia marah pada mama dan papanya yang memperbolehkan kak Imo pergi dari rumah. Ia marah pada kak Imo yang mau pergi dari rumah dan meninggalkannya sendiri. Ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa.

“Gieska sayang..” sapa mama. Gieska tidak menggubris mamanya. Ia kembali memeluk gulingnya dan hilang dibalik selimut.

“Gieska, kamu ngga sayang sama kak Imo? Kak Imo mau pulang ke rumahnya.”

“INI RUMAH KAK IMO!” jawab Gieska marah.

“Iya, ini juga rumah kak Imo. Ayo, kita antar kak Imo. Kamu ngga kangen sama kak Imo?”

Gieska hanya diam. Tak mau menjawab dan mendengar apa-apa lagi.

“De…” kali ini Imo yang angkat suara.

Gieska langsung lompat ke dalam gendongan Imo.

“Kakak….” Gieska marah. Dalam gendongan Imo, memukul-mukul Imo.

“Ssssttt.. De Gieska ngga boleh nakal. Hayooo.” Imo menahan tangisnya.

“Fuhhh fuhhhhh aku tau kakak lagi sakit kan hatinya? Fuuhhh fuuhhh”

“Dee.. Ayo, kamu ikut yuk..”

Gieska terpaksa ikut ke rumah orangtua Imo yang lumayan jauh dari rumahnya. Ia tak bisa menolak. Ia ada di gendongan Imo kala itu.

***

Gieska hanya diam tak berbicara saat sampai di tempat tujuan. Begitu pula semua yang ada di situ. Beberapa kali Gieska menghirup obat asma yang ia bawa.

Imo merasa sangat sesak melebihi siapa pun kala itu. Rasanya dada itu sudah akan meledak detik itu juga. Ia tak tega meninggalkan semuanya, terutama Gieska. Ia sangat sayang pada adiknya itu.

“Aku sayang kak Imo” kata Gieska sambil berlari ke gendongan Imo. Ia lalu memberikan boneka barney kesayangannya pada Imo. “Buat kakak ya?” tanya Imo. “He eh” jawab Gieska.

“Kakak sayang Gieska?” tanya Gieska polos. Ia takut kakaknya tidak sayang lagi padanya.

“Kok kamu nanyanya gitu? Kakak kan selalu sayang Gieska.”

“Janji ya?” mereka lalu mengaitkan jari kelingking mereka “Janji!” kata Imo mantap.

***

3 tahun kini berlalu.

Gieska beranjak menjadi gadis remaja yang cantik. Namun ia masih sering memikirkan kakak kesayangannya itu. Setiap keluarganya pergi mengunjungi Imo, Gieska tidak pernah mau ikut. Ia selalu punya segudang alasan untuk menolaknya. Mulai dari besok ada ulangan, ada kerja kelompok, sampai sudah cape. Orangtua Gieska, bahkan Imo pun tau, itu hanya kebohongan Gieska yang tidak mau bertemu dengan Imo.

***

4 bulan kemudian..

Gieska mulai tertarik dengan kabar Imo. Ia sudah lama sekali tidak mendengar kabar Imo.

“Mama, mama ngga ke tempat kak Imo?” tanya Gieska suatu waktu saat mamanya sedang menyiran tanaman.

“Kenapa emang? Tumben kamu nanyain.”

“Nanya aja ma. Kan biasanya sebulan sekali mama sama papa pasti ke sana.”

“Kamu mau ke sana?”

“MAU MA MAU!!” jawab Gieska semangat.

“Okay, tapi kamu persiapin hati ya. Jaga kondisi dulu.”

“Mama apaan sih? Orang cuma ketemu kak Imo doang.”

“Kamu akan tau nanti.” kata mama serius.

Perasaan Gieska tak karuan. Ia bingung.

Tapi ia kini mulai melaksanakan kata mamanya. Ia mulai mempersiapkan semuanya untuk pergi ke sana. Ia membawa makanan kecil dan minuman untuk bekal selama perjalanan. Ia sudah men-charge hapenya. Ia sudah membawa obatnya. Ia sudah makan terlebih dulu sebelum berangkat. Ia juga sempat mencuci mobil untuk berangkat. Ia mengecek bensin mobil yang ternyata masih full. Ia juga meminta papa untuk mengecek segala sesuatu untuk urusan mobil, seperti ban dan aki mobil.

Semua siap! batin Gieska. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu kakaknya itu. Entah mengapa kini ia mau dan bersemangat bertemu dengan kakaknya itu.

***

Sejujurnya Gieska tidak pernah ingat jalan menuju rumah kakaknya itu. Ia tidak ingat dan tidak mau mengingatnya.

Sepanjang perjalanan, Gieska hanya bisa mengingat kembali kakaknya itu. Selama 10 tahun mereka hidup bersama-sama. Bermain dan belajar bersama.

Mereka kini sampai di tempat Imo.

“Maaa..” Gieska bingung. Mama tak menjawab. Membiarkan Gieska melangkah duluan, sendiri.

“MAMA!!!” Gieska kini mulai histeris. Mama tetap tidak menjawab.

“PAPA!!” papa pun tidak menjawab.

Gieska mulai terisak.

“Mama sama papa……” Gieska tidak bisa menahan rasa kecewa pada kedua orangtuanya itu..

“Maaf sayang, kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Kami khawatir dengan kondisi kamu nak.” Kini papa yang berbicara.

“Papa benar. Terima kasih.” jawab Gieska lirih.

Kini Gieska hanya terpaku mematung melihat batu berukir nama kakaknya itu “IMO SETIAWAN”

Ia tau kini takdir yang memintanya untuk melihat pembaringan terakhir kakak kesayangannya.

Gieska menangis sangat hebat.

“KAK IMO JAHAAAATTTT!! KAK IMO NGGA SAYANG SAMA GIESKAAAA! KAK IMO BOHONGGG!!” emosi Gieska meluap.

“Gieskaaa..” mama mencoba menenangkan anaknya itu.

“Mama, kak Imo bohong. Dia bilang bakal terus jagain aku. Dia bilang bakal terus sayang sama aku. Dia janji ma! Dia janji!” Gieska menumpahkan semuanya.

“Sayang, kak Imo kecelakaan waktu itu. Kamu mau liat dia terus kesakitan? Kasian dia sayang.”

“Kak Imo bisa bilang sama aku kan ma? Biar aku tiupin dia. Biar ngga ada lagi yang sakit. Kak Imo juga selalu tiup dada aku kalo aku lagi kambuh.” Gieska mulai mengenang kenangan bersama Imo.

“Sini kak, aku tiupin. Fuhhhhhh.. Fuhhhhhh.. masih sakit kak?”

“KAKAK JAWAB DONG! JANGAN DIEM AJA!” Gieska mulai kalap dengan sedihnya yang mendalam.

“AKU BENCI KAK IMO! AKU BENCIIIIIII!! Hhhhhhh hhhhhhh….”

Gieska mulai kehabisan nafas. Dadanya mulai sesak. Ia melihat ada kakaknya yang meniup dadanya yang sesak kala itu. Ia masih melihat senyum kakaknya. Ia masih mendengar nada khawatir orang-orang di sekitarnya itu.

Mungkin ini cara takdir mempersatukan kita lagi kak. Batin Gieska.

The End

29 11 / 2013

Apa kamu memperhatikanku seperti aku memperhatikanmu?

Apa kamu melihat kala aku melihatmu?

Apa kamu mengenalku seperti aku mengenalmu?

Apa aku menjagamu?

Ya aku menjagamu. Selalu.

Menjagamu dengan caraku sendiri.

Menjagamu dari jauh. Dari sini.

***

Aku masih meringkuk di dalam selimutku pagi ini. Tidak berminat melakukan aktivitas apa pun di hari libur seperti ini.

Ting tong!

Bel rumahku berbunyi. Di rumah tak ada orang lain selain aku. Mau tidak mau aku segera beranjak dari tempat tidurku.

Kubuka pintu, dan nampaklah sesosok laki-laki berdiri tepat di depanku. Kulitnya putih, rambutnya hitam, bibirnya merah, matanya sipit. Sekilas nampak seperti perpaduan orang chinese dan orang barat. Senyumnya mengalahkan sinar matahari di luar sana. Mempesona.

Dia tertawa melihat penampilanku.

Dia.

“Mandi sana! Rapi-rapi! Abis itu ikut aku!” katanya. Aku mendengus sebal. Tapi tetap saja aku lakukan perintahnya. Bahkan tanpa bertanya akan pergi kemana.

***

“Mau kemana Ben?” Ben, nama yang sangat tidak asing di duniaku.

“Kamu mau kemana?” dia balik bertanya.

“Bebas kan?” aku tersenyum, memikirkan keinginanku. Gunung, pikirku. Selalu ingin ke gunung.

“Kemana pun asal bukan ke gunung.” katanya tanpa sedikit pun melihatku.

Sial. Dia seperti tau pikiranku.

“Yaudah terserah.” Aku menyenderkan tubuhku ke jok mobil. Sedikit mengerucutkan bibirku.

Ku ambil bantal berbentuk kepala sapi di jok belakang. Aku memilih melanjutkan tidurku dalam perjalanan. Tidak peduli mobil Ben akan melaju kemana. Toh tidak akan ke gunung. Dan ya, aku tidak suka kejutan.

***

Kamu tau apa alasan aku ga pernah izinin kamu untuk ke gunung.

Jangan tanya apa-apa lagi.

You know the reason.

***

“Ras..” ya, Laras namaku. Dengan hati-hati Ben sedikit mengguncang tubuhku.

“Hem. Kita dimana?” tanyaku sambil melihat sekeliling.

Aku tidak mendapat jawaban. Ben lalu turun, membukakan pintu mobil untukku.

Brrrrrr…

Udara dingin menusuk kulitku.

Aku mendekap kedua tanganku, memeluk diri.

Aku menyunggingkan senyumku. Mataku berbinar menatap Ben. Dia tersenyum, memamerkan sederet rapi gigi putihnya.

“Seperti yang kamu minta?” tanyanya.

“PUNCAK!” aku berseru senang. Ada ribuan kilometer dari dasar laut. Ya Tuhan, aku pasti bermimpi!

Aku masih tercengang dengan semua yang ku lihat. Tak percaya, Ben sungguh membawaku ke tempat ini!

Aku mulai berkeliling sendiri, melihat yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Ben menghampiriku, “Nih.” katanya sambil memakaikanku topi kupluk berwarna ungu muda, lavender. Soft.

“Gimana?” tanyanya. “Udah ga dingin.” jawabku sambil tersenyum. “Gimana?” aku balik bertanya, “Cantik. Kamu selalu cantik.” jawabannya semakin membuat merah wajahku.

Ben menggandeng tanganku, mengajakku membeli balon-balon tiup.

Aku berhenti sejenak, melihat sederet kuda dengan gagah berb aris rapi di sudut sana. Ben mengerti. Satu kuda kini ada di depanku.

“Aku doang?” tanyaku. “Iya, aku di bawah sini.” Ben yang menuntun kudanya, dengan pemilik kuda di belakangnya. Aku kini di atas kuda, memejamkan mataku. Sebisa mungkin mencoba menghirup udara puncak. Menghafalnya. Berharap bias ku bawa pulang udara ini!

***

Puncak.

Entah apa yang memberanikanku membawamu ke sini.

Berpijak ribuan kilometer dari dasar laut.

Aku terlalu takut sebenarnya.

Tapi aku terlalu rindu mata berbinarmu.

Terlalu rindu tawa riangmu.

Maka ku yakinkan, dan ku pastikan, aku ada.

***

Ben membantuku turun dari kuda. Aku tersenyum puas. Hari kini mulai sore. Banyak pedagang menjajakan dagangan mereka.

“Ben….” Aku menunjuk pedagang jagung bakar di sebelah sana. Ben tersenyum, “Em, tunggu disini ya.” Setelah Ben pergi, aku tertarik dengan satu sarung tangan dengan motif yang tidak ku mengerti. Abstrak, tapi menarik. Ku beli satu, lalu kembali.

Ben ada di sana, panik mencariku. Aku tersenyum menghampirinya. “Sorry.” Kataku memamerkan senyum termanis sebisaku. Dia memegang dua jagung bakar di tangannya, lalu memberikan satu untukku.

Matahari mulai turun, sinar oranye menyebar ke seluruh daerah ini. Aku dan Ben serentak berdiri menyaksikan matahari terbenam dari sini.

KLIK. KLIK.

Dua kali terdengar suara Polaroid dengan jarak waktu yang berdekatan.

Mas-mas tukang foto keliling itu lalu memberikan hasil fotonya. Ben baru akan memberikan sejumlah uang, “Ga usah. Anggap ini hadiah dari saya karena kalian pasangan yang serasi.” katanya, lalu pergi.

“Terima kasih!” kata aku dan Ben nyaris berbarengan. Mas-mas tukang foto keliling itu berbalik sebentar, dan tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Aku melirik ke arah Ben, dia tersenyum melihatku. Aku tersenyum malu-malu. Pipiku memanas. Ku lihat Ben, wajah dan bibirnya kini memerah karena malu dan kedinginan.

Hasil foto yang… Indah. Sungguh. Nampak seperti siluet.

Jagung bakar sudah habis. Matahari terbenam, kini giliran bintang yang siap memberikan kilaunya.

“Ben.” Panggilku. Ben melirik ke arahku, “Ya?” jawabnya. Aku langsung mengeluarkan sarung tangan yang tadi ku beli. Ku pasangkan.

Dia tersenyum, “Makasih.” Katanya.

Aku menggeleng cepat, “Kamu tau seberapa besar keinginanku pergi ke gunung. Makasih.” Aku menunduk.

Ben nenarikku dalam peluknya. Hangat.

“Ras..” panggilnya dalam peluk. “Hem..” aku hanya menjawab dengan gumaman. Terlalu nyaman ada di pelukannya.

“Jangan ada wajah itu lagi. Jangan ada wajah sedih. Terlebih senyum palsu. Please?” katanya.

Aku hanya tersenyum dalam pelukannya.

***

Laras. Dia kini tertidur di jok di sampingku.

Mungkin dia lelah?

Tapi jelas ada seulas senyum di sana.

Seulas senyum yang selalu ku rindukan.

“Sampai kapan pun, aku akan selalu rindu senyuman dan mata berbinarmu. I love you more than you know.” kataku sedikit berbisik.

***

Aku tidak tidur, Ben.

Aku hanya tak mampu berucap.

Kupu-kupu kini tak bisa pergi dari perutku.

Aku terlalu senang. Sungguh.

Terima kasih, Ben!

I love you more!

 

*** THE END***